Pancasila adalah ideologi dasar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nama ini berasal dari Bahasa sanskerta, yaitu panca yang berarti lima dan sila yang berarti pedoman atau asas. Ideologi dasar NKRI ini lahir pertama kali melalui pidato yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada sidang pertama インドネシア独立準備調査会 (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dilaksanakan di gedung Volksraad (pada jaman pendudukan Belanda) atau Chuo Sangi In (pada jaman pendudukan Jepang) atau Gedung Pancasila (hingga saat ini) pada tanggal 1 Juni 1945. Kelima sendi utama penyokong Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai ideologi dasar sebuah negara yang besar seperti Indonesia, Pancasila mampu tampil sebagai salah satu faktor pemersatu bangsa yang terdiri berbagai macam suku, ras dan agama. Maka tidaklah heran jika lantas kehadiran Pancasila turut melahirkan Bhinneka Tunggal Ika (walau berbeda tetapi tetap satu jua) sebagai semboyan negara Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, Pancasila sebagai dasar Negara sudah beberapa kali mengalami goncangan dan upaya perubahan. Sejarah masa lalu Indonesia mencatat, berbagai macam upaya pernah dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menanamkan paham dan ideologinya untuk menggoyang Pancasila. Tidak sedikit korban jiwa telah jatuh akibat dari upaya-upaya yang dilakukan oleh sekelompok orang yang merasa bahwa kelompok dan golongannya adalah yang paling benar di Indonesia. Pemberontakan DI/TII dan PKI (1948 dan 1965) adalah sedikit contoh dari gerakan-gerakan yang berupaya untuk merubah Pancasila sebagai landasan hidup dalam berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Namun, dengan semangat akan persatuan dan kesatuan yang ada dalam diri masyarakat Indonesia saat itu, seluruh tindakan dan upaya ekstrim tersebut dapat digagalkan.

Tantangan dan ancaman akan upaya menggoyang Pancasila sebagai landasan bernegara bangsa Indonesia tidak lantas selesai. Hingga di era digital seperti saat ini pun masih ada upaya-upaya dari beberapa kelompok dan golongan untuk mengganti Pancasila. Hal-hal yang dapat memicu lahirnya kelompok-kelompok ini tidak lain adalah diakibatkan belum optimalnya penerapan seluruh sila-sila Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal tersebut ditambah dengan gaya hidup, sikap acuh tak acuh, fanatik sempit dan ketidakadilan yang dapat dengan mudah kita jumpai di lingkungan sekitar. Tidak sedikit masyarakat Indonesia saat ini yang lebih bangga akan ideologi-ideologi yang menganut kebebasan atau fanatik yang berasal dari luar Indonesia. Mereka tidak sadar bahwa dengan kondisi dan kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia, tidak ada ideologi lain yang lebih baik dan pantas untuk diterapkan selain Pancasila.

Pancasila akan tetap tegak jika kita sebagai bangsa selalu berpedoman padanya dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, akankah kita sebagai generasi penerus bangsa ini rela dasar negara kita Pancasila diganti dengan idologi lainnya? Lebih banggakah kita pada ideologi-ideologi negara lain lebih dari bangga kita terhadap Pancasila? Malukah kita untuk menerapkan sila-sila Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari? Saya akan menjawab dengan TIDAK. Bagaimana dengan anda?

 

Artikel oleh: Okky Freeza Prana Ghita Daulay