Hal pertama yang (tidak) kita sadari ketika bergabung secara langsung maupun tidak dalam Persatuan Pelajar Indonesia saat studi di Luar Negeri ialah keberadaan orang-orang yang sukarela meluangkan waktunya untuk menjaga keberadaan sebuah organisasi sebagai wadah resmi Keluarga Besar Pelajar Indonesia di suatu kota/negara.

Bagi sebagian kita yang sudah menghabiskan waktunya di dunia kerja dan kini sedang menempuh pendidikan atau berstatus kembali menjadi mahasiswa, tentunya terlibat ke dalam sebuah organisasi seperti persatuan/perhimpunan pelajar/mahasiswa bukanlah pilihan yang menarik. Kecuali memang di dalam diri pribadinya mengalir jiwa yang tinggi untuk berorganisasi atau dikarenakan ada alasan tertentu lainnya.

Lain halnya, bagi beberapa dari kita yang selesai Sarjana Strata-1 di dalam negeri dan langsung mendapat kesempatan untuk studi di luar negeri, maka ada kemungkinan masih memiliki minat atau ketertarikan untuk berorganisasi. Di sisi lain, bagi sebagian teman-teman yang sedang mengambil Sarjana Strata-1 di luar negeri (kemungkinan) tentunya aktif dalam kegiatan atau menjadi bagian dari organisasi pelajar/mahasiswa merupakan kesempatan yang dapat bermanfaat ke depannya.

Paragraf di atas adalah gambaran pemikiran dari sebagian orang dan pastinya banyak pula yang memiliki pemikiran lain. Tapi pernahkah kita berfikir atau sejenak merenung, tentang peran dari organisasi seperti PPI Enschede bagi kita (baik yang langsung maupun tidak)?

Satu hal yang masih penulis ingat (dalam khayalan kali ini) ialah pertanyaan:

Apa sich benefit atau keuntungan menjadi anggota PPI? Pertanyaan yang muncul sebagai implikasi tatkala beberapa orang diminta untuk membayar kewajibannya seumur hidup sekali untuk menjadi anggota resmi (ini contoh perumpamaan kasus saja). Katanya: bukan masalah nilai, tapi apa manfaatnya? Toch dengan tidak bergabung dengan PPI, kami masih bisa bertahan hidup dan kuliah.

Kemudian di sisi lain, ada juga beberapa dari kita yang (mungkin) memiliki idealisme tinggi untuk mengubah kondisi lingkungan kerja atau bahkan ‘mengubah’ Indonesia. Lalu, kenapa tidak mencoba untuk mengimplementasikannya dengan berorganisasi di sini? Lagi dan lagi…jawabannya ialah waktu dan tempat yang belum tepat atau sesuai mengingat load/beban perkuliahan dan mungkin hal pribadi lainnya.

Tulisan ini tidak akan mengupas kisah-kisah fiktif atau perumpamaan di atas. Beberapa kisah atau pertanyaan di atas hanyalah segelintir kecil dari rentetan kejadian yang menjadi peluang dan tantangan bagi teman-teman yang hendak meluangkan waktu untuk sebuah Persatuan Pelajar Indonesia di Luar Negeri.

Sore ini (16/10/2017), penulis iseng bertanya ke Mbah Google dan memilah temuan di halaman pertama hasil pencarian untuk menjawab judul di atas. Kata kunci yang diketik ialah: “Mengapa kita perlu berorganisasi“.

Metode yang digunakan ialah top 5 dari hasil pencarian di halaman pertama.

Terdapat 10 link dan penulis ambil 5 teratas, dengan rincian 2 link pertama dan teratas merupakan materi pendidikan untuk sekolah dasar dan sekolah menengah atas dan 3 link merupakan gagasan yang ditulis di blog.

1. Pertanyaan pada brainly.co.id di tugas sekolah dasar  (sumber: https://brainly.co.id/tugas/4739988)
Jawabannya:
– Agar kita dapat menjadi orang yang dapat berkerja sama.
– Karna kita adalah makhluk sosial kita tidak dapat hidup sendiri, dengan berorganisasi pergaulan dan pengetahuan kita menjadi luas dan pastinya bakal banyak pengalaman baru yang kita peroleh dari organisasi yang kita keluti. Dengan mengikuti organisasi kita juga dapat menggali potensi diri kita.

2. Pertanyaan pada brainly.co.id di tugas sekolah menengah atas (sumber: https://brainly.co.id/tugas/1794810)
Jawabannya:
– Agar dapat menuangkan ide-ide yang kita miliki untuk memajukan organisasi yang kita ikuti serta dapat bermanfaat bagi orang lain.
– Agar dapat tercapainya suatu tujuan.

3. Tulisan di kompasiana (sumber: https://www.kompasiana.com/abulaka/mengapa-harus-berorganisasi_5530106a6ea834581a8b459a)
Jawabannya:
– Ruang bermasyarakat mahasiswa ialah organisasi.
– Organisasi sebagai guru kehidupan.
– Seorang pemimpin tidak harus orang cerdas tapi: tanggung jawab, pengalaman, loyalitas, integritas, mengayomi dan kreatif.

4. Tulisan di kompasiana (sumber: https://www.kompasiana.com/ctgunawan/mengapa-perlu-berorganisasi_552902e06ea8343d6f8b45ae)
Jawabannya:
– Manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan dapat hidup sendiri, kita pasti membutuhkan orang lain.
– Beroganisasi itu akan berguna untuk kita (terutama pelajar dan mahasiswa) untuk bersiap menghadapi dunia yang sebenarnya (keluarga, dunia kerja, dan masyarakat).
– Memantaskan diri kita menjadi lebih baik agar dapat berguna bagi bangsa dan agama.
– Memanfaatkan waktu luang dengan jalan positif, salah satunya yaitu berorganisasi.

5. Tulisan di wordpress (sumber: https://beranda08.wordpress.com/2008/02/27/kenapa-harus-berorganisasi/)
Jawabannya:
– Individu yang berorganisasi merupakan individu yang paling memiliki peluang mewujudkan fitrah kemanusiaannya yang merdeka, berkehendak untuk tumbuh dan saling memberi dengan yang lainnya.
– Berorganisasi juga merupakan proses pembentukan jatidiri individu dan sekaligus ruang bagi individu beraktualisasi, mengekspresikan kemanusiaanya dengan baik, dibandingkan dia hanya seorang diri ataupun sekedar berkerumun.
– Berorganisasi pada dasarnya berusaha mewujudkan kemanusiaan kita dengan jalan terbaik, mempersiapkan masa depan secara bersama dan terarah dengan jelas.

Itulah pandangan yang disampaikan oleh beberapa orang yang menyampaikan jawaban atau pendapatnya atas pertanyaan “Mengapa kita perlu berorganisasi” dengan berbagai rujukan atau dasar pengalaman di beberapa website.

Nah, lalu bagaimana dengan kita? Masih perlukah kita ‘ber-PPI’ di Enschede? Apakah jawaban-jawaban di atas terlalu klasik atau normatif?

Yaps…kembali ke pribadi kita masing-masing. Hal yang mendasar ialah tidak ada paksaan dalam beroganisasi dan sama halnya juga bahwa tidak ada paksaan bagi kita untuk meluangkan waktu bagi PPI. Mengingat dan merujuk tujuan utama studi di Enschede ialah belajar dan selesai studi tepat pada waktunya sebaik mungkin.

Akan tetapi, bagi yang punya ide, keinginan mengimplementasikan kemampuan manajerialnya, berbagi ilmu manajemen atau pengalaman berorganisasi dan berkenan meluangkan waktunya untuk mengelola kebersamaan dan keceriaan yang ada di Enschede…Inilah saatnya, PPI Enschede membutuhkan keberadaan dan kontribusi nyata teman-teman.

Tantangan muncul pasca keluangan waktu itu telah tersedia dalam diri teman-teman yaitu bagaimana menjaga komitmen dan tetap bertanggung jawab terhadap segala ide dan kegiatan yang diagendakan dan dijalankan serta penyelesaian atas tiap permasalahan yang muncul, hingga beberapa kejadian di luar dugaan yang tidak menutup kemungkinan terjadi di dalam masa kepengurusan.

Mari melangkah bersama dan berfikir ke depan.

Yuks, saatnya tongkat estafet ini diserahkan, mari sama-sama ramaikan ajang demokrasi dengan memberikan ide dan kreatifitas untuk sebuah kebersamaan keluarga besar PPI Enschede.

Selamat mempersiapkan kelengkapan berkas untuk pendaftaran calon Ketua/Presidium PPI Enschede dan merumuskan Visi, Misi dan Program Kerja untuk PPI Enschede yang makin asyik, kumpul rukun dan KeCe (Keluarga Ceria).

 

Ditulis di Enschede, 16/10/2017 dan modifikasi/update pada 24/10/2017

Aji Putra Perdana
Kepengurusan PPI Enschede 2016/2017