Kring, kring, kring, ada sepeda

Sepedaku roda tiga

Kudapat dari ayah karena rajin belajar

Sepeda adalah salah satu sarana transportasi yang lazim dijumpai di Belanda. Masyarakat Belanda gemar bersepeda dan sebagai salah satu pengguna jalan sangatlah dihormati. Kebiasaan bersepeda dan bangga bersepeda ditanamkan sejak kecil. Hal ini juga didukung dengan infrastruktur yang memadai untuk sepeda. Sering kita jumpai jalan khusus sepeda, juga rambu-rambu untuk pengendara sepeda.

Sebagai pelajar yang akan tinggal cukup lama di Belanda, sebaiknya kita membiasakan bersepeda. Tidak sulit bersepeda dari tempat tinggal menuju kampus. Perjalanan sejauh 5 km dapat dilalui tanpa sesak nafas akibat polusi udara.

Salah satu alasan penggunaan sepeda sebagai kendaraan sehari-hari adalah biaya transportasi umum (bus) yang lumayan. Untuk sekali perjalanan dari halte terdekat tempat tinggal menuju halte terdekat kampus memerlukan karcis senilai €2, yang bisa lebih murah jika menggunakan OV-chipkaart berlangganan. Hitungan kasar biaya transportasi per bulan sekitar €100, hanya untuk perjalanan tempat tinggal menuju kampus dan sebaliknya. Dengan nilai ini, kita sudah bisa mendapatkan sepeda yang lumayan bagus.

Kemudahan bersepeda didukung pemerintah dengan jalan khusus sepeda, rambu-rambu lalu lintas yang cukup detil, dan peta GPS yang cukup akurat. Selain itu, faktor geografis seperti kontur jalan dan cuaca yang sejuk pun tidak menjadi hambatan.

Sebelum mulai bersepeda, mari kita kenali tata berkendara dan rambu lalu lintas di Belanda. Oh ya, kalian semestinya sudah tahu bahwa penggunaan jalan di Belanda berbeda dengan di Indonesia, yaitu kita menggunakan lajur kanan sebagai lajur utama. Secara umum, rambu dikelompokkan menjadi rambu berwarna biru, rambu lingkaran merah, dan rambu segitiga merah. Rambu berwarna biru bersifat instruksi, sedangkan rambu lingkaran merah adalah rambu larangan dan rambu segitiga merah adalah rambu peringatan untuk waspada. Berikut ini merupakan beberapa rambu yang lazim ditemui di jalan dan wajib kita ketahui sebagai pesepeda.

(https://en.wikipedia.org/wiki/Road_signs_in_the_Netherlands)

Rambu-rambu di atas adalah sebagian yang mengatur tata berkendara pesepeda. Rambu-rambu selengkapnya dapat dilihat di tautan ini.

Selain rambu-rambu yang terpampang di tiang, ada beberapa rambu di jalan yang patut kita ketahui. Rambu-rambu ini berbentuk/gambar yang sama dengan rambu-rambu di atas, hanya yang membedakan adalah rambu-rambu ini digambar di dasar jalan. Dua rambu lazim kita temui di persimpangan.

(http://www.nooitgedachtrolde.nl/)

Rambu (A) biasanya kita temui jalan yang bidangnya dibuat sedikit menanjak dan isyarat agar pengendara menurunkan lajunya. Bidang menanjak ini bisa berupa polisi tidur (speed bump) atau juga di persimpangan jalan. Jika di persimpangan tidak ada rambu apa-apa atau hanya ada rambu (A), pengendara yang berada paling kanan memiliki prioritas untuk melewati persimpangan terlebih dahulu. Rambu (B), pengendara yang dihadapkan dengan rambu ini wajib berhenti dan memberi jalan kepada pengendara yang akan lewat di depannya, baik dari arah kanan atau pun kiri, sampai jalan di depannya bebas (kosong), barulah pengendara dapat melewatinya.

Selain kesiapan kita sebagai pengendara sepeda dalam menaati lalu lintas, kondisi sepeda pun harus siap agar terhindar dari kecelakaan. Hal-hal yang perlu dilakukan sebelum bersepeda, terutama untuk perjalanan jauh, di antaranya :

  1. Periksa tekanan udara ban sepeda. Biasanya, untuk citybike dengan lebar ban sekitar 1.3″ – 1.5″, tekanan udara ban sekitar 50-60 psi (3.5-4.1 bar). Untuk roadbike yang memiliki lebar ban lebih rendah (sekitar 1″), perlu tekanan sekitar 60-80 psi (4.1-5.5 bar), sedangkan sepeda gunung dengan lebar ban 1.8″ – 2.3″ perlu tekanan 35-55 psi (2.4-3.8 bar). Tidak punya pompa dengan barometer? Cukup dikira-kira saja, tidak lembek, namun tidak terlalu keras juga.
  2. Periksa ketebalan ban. Jika sepeda digunakan teratur setiap hari, rata-rata ban memiliki usia 2-3 tahun. Semakin tipis ban, semakin tinggi risiko kecelakaan akibat terpeleset, terutama pada musim dingin ketika mulai bersalju dan jalan menjadi licin.
  3. Periksa roda. Beban berlebih pada sepeda biasanya berakibat kondisi roda menjadi tidak seimbang sehingga bersepeda menjadi sulit. Hindari bersepeda dengan mengangkut beban berlebih atau berboncengan.
  4. Periksa rem depan dan rem belakang. Biasanya kabel rem mengalami masalah ketika musim dingin karena temperatur terlalu rendah. Hal ini dapat diatasi dengan menyiramkan air panas ke kabel rem. Jangan lupa melumasi kawat rem agar gesekan kawat dalam dan badan kabel rem kecil sehingga tidak ada kendala dalam mengerem. Selain rem tangan (dengan kabel atau hidrolik), ada sepeda yang menggunakan sistem kayuh untuk mengerem. Caranya sederhana, hanya dengan mengayuh ke belakang maka rem berfungsi. Akan tetapi, rem ini menjadi salah satu kendala bagi yang tidak terbiasa.
  5. Periksa transmisi sepeda, di antaranya roda gigi dan dan tuasnya. Roda gigi yang sudah aus dan meruncing dapat berakibat perpindahan gigi yang tidak lancar dan kayuhan yang tidak optimal. Lebih buruknya lagi, dapat menyebabkan kayuhan selip dan rantai terputus. Jaga roda gigi dan rantai dari air dan lakukan pelumasan teratur untuk menghindari karat yang dapat menyebabkan keausan lebih cepat.
  6. Terakhir, bel sebagai pelengkap dan fender agar tidak ada cipratan air kotor ke muka, terutama ketika sering turun hujan.

Belum punya sepeda? Tenang, di Enschede banyak toko sepeda dengan rentang harga mulai €100 hingga ribuan €. Kalian juga bisa membeli sepeda bekas dari penduduk lokal atau pelajar yan hendak pulang ke negeri asalnya dengan harga lebih murah daripada membeli di toko sepeda. Jangan lupa, sebelum melakukan membeli sepeda, pastikan agar sepeda yang hendak dibeli bukanlah sepeda curian. Kalian bisa memeriksanya melalui laman ini dengan memasukkan merk sepeda dan nomor rangka sepeda.

Selain kegiatan sehari-hari ke kampus, masyarakat Indonesia juga sering melakukan rekreasi dengan bersepeda. Mereka yang tergabung dalam EGC sering berwisata dengan sepeda, di antaranya ke danau Rutbeek, danau Hulsbeek, Ochtrup dan Bad Bentheim (Jerman), bahkan ke Amsterdam! EGC juga sering mengadakan kegiatan bengkel sepeda bersama sehingga masyarakat yang awam sepeda menjadi tahu dan dapat melakukan perawatan sendiri. Perlu kita tahu, jasa pertukangan di Belanda bernilai cukup mahal. Untuk mengganti ban saja perlu sekitar €15, hanya untuk jasanya saja, belum termasuk ban.

(Bengkel bersama, foto oleh DFM)

Semoga kita yang kelak kembali ke Indonesia membawa kebiasaan bersepeda sehingga jumlah polusi udara dan kemacetan akibat kendaraan bermotor berkurang. Tentunya kita juga berharap pemerintah mendukung gerakan bersepeda dengan membangun infrastruktur yang layak. Hmm… Kira-kira, kapan Indonesia bisa seperti ini ya?

 

(Deby Fajar Mardhian)